Senin, 20 Mei 2013

[Subliminal] Hidup

Pertama,
kamu terlahir tak ingat bagaimana,
kamu menangis dan orang tertawa.
Kemudian,
kamu mulai berbicara dan berjalan,
kamu disayang walau merepotkan.
Tak terasa,
kamu sudah bisa tulis-baca,
main bola ultra ceria,
rasa aneh akan perempuan,
tak tahan segala ledekan.
"Ranking",
kata mereka,
"Penting",
prestasi sesuai ekspektasi.

Kamu akan bertemu dengan guru kursus,
yang membuatmu belajar sampai kurus.
Kamu akan dipermalukan ayah-ibu,
dibanding-bandingkan dengan kawanmu,
yang berhasil naik kelas,
dan kamu tak bisa membalas.

Tiba-tiba,
tumbuh rambut selain di kepala,
rangsangan dari buah dada,
berkenalan dengan masturbasi,
raja dari segala sensasi.

Sepupumu akan bilang "sudah besar",
basa-basi kontradiksi,
artinya emosi kamu belum tertatar,
dan sama sekali belum gahar.

Mendadak kamu bercelana panjang
sok dewasa, semua dicoba dan dirasa,
tak peduli masa lajang,
ingin melihat dunia telanjang.

Kemudian,
Semua menangis bombay,
mengenang para handai,
konon kamu disiapkan,
untuk nyatanya kenyataan,
dunia antah-berantah tanpa hiasan indah,
dendang tanpa nada, puisi tak berima.

Kamu pun berlomba untuk memilih universitas,
pertimbangannya cuma dua: apa yang kamu suka, apa yang orangtuamu pikir terbaik untuk masa depanmu.
Berkelanalah kamu menuju pra-masa depan, pasca-remaja.

Kamu berusaha menjadi yang terbaik,
bila tidak, kamu hanya figuran akademi,
yang penting senang, yang penting selesai.

Tiba-tiba kamu menganggur,
hampir saja menuju rutinitas baru,
lamaran kerja demi lamaran nikah,

Kamu memulai karir,
mencari perusahaan terbaik atau termudah untuk dimasuki.
Kamu akan diikuti program pelatihan,
demi memenuhi standar yang "lebih baik",
Perlahan kamu mengalami peningkatan,
titel, honor, hidup.
Mungkin kamu akan pindah 2-3 kali,
demi gaji atau jarak yang lebih bersahabat,
demi kelangsungan rutinitas.

Kemudian kamu melamar atau dilamar pacarmu.
Kamu akan menikah dengan perayaan glamor,
disalami ratusan orang asing dan puluhan kawan dan saudara.

Persetubuhanmu akhirnya suci,
demi melanjutkan keturunan.
Anakmu akan menghiasi bingkai.
Dia akan menjadi magnet hidup,
pengingat betapa kamu dan pasanganmu sudah menemui standar kebahagiaan.

Tiba-tiba posisi karir kamu sudah meyakinkan,
anakmu sudah tiga,
rumah barumu berdiri dengan megahnya.
Hidupmu sempurna,
apalagi yang harus diperjuangkan?

Tiba-tiba kamu sudah beruban,
anakmu sudah beranak,
entah sudah berapa kali kamu menyelingkuhi pasangan hidupmu,
tapi kamu tidak mau berpisah,
demi standar kebahagiaan yang enggan kamu lepas.

Lalu kamu mati,
semua orang tidak membicarakan apa-apa,
selain betapa baiknya dirimu saat masih hidup,
semua orang menangis.

Lantas apa?
Kamu hidup untuk menciptakan hidup baru?
Sebuah ajang transfer napas,
rutinitas busuk tanpa ada poin penting di dalamnya.
Ngentot lah.